Chapter 3: Half truth that is

Elios pergi dengan kesepakatan. Meanwhile Kayl dan Malkay masih duduk menikmati minuman mereka.


Kayl mengaduk susu matchanya dengan sedotan. Not like there was any sugar or something. Hanya kebiasaan.

Selain itu, the moment minumannya berputar, ruangan itu sudah diselimuti dengan teknik block masking. Teknik spasial untuk membuat energi Crown berputar acak di dalam ruangan. Sangat tipis, tapi sangat liar.

Orang biasa hanya merasa kedinginan, para Crown bearer melihat distorsi energi dan suara.

Tipikal teknik anti penguntit.

"Well, that was easy."

Kayl menyender lagi. Sangat santai. Dia seperti hampir rebahan di kursi.

Malkay tengah menikmati susu matcha juga. 

"Itulah kenapa Elios adalah yang pertama."

Yang lucu adalah Malkay memakai topeng digitalnya. Banyak orang penasaran bagaimana dia minum atau makan. Padahal jawabannya sederhana.

Malkay membuat robekan ruang di luar topeng dan membuka jalur yang tembus ke mulutnya.

"Katakan, kau belum menjelaskan kenapa Elios adalah target pertama."

Tanya Kayl.

"Aku sudah merencanakan ini sejak awal."

Malkay menekuk jari tangan kanan, menghitung satu persatu opsi yang ada di pikiran.

"Yang pertama adalah Elios. Yang kedua adalah Djakson. Kemudian Vianne dari Fairy Palace, dan yang terakhir adalah Magaya dari Imperial Sanctum Party."

Ia menghitung ulang dan memastikan bahwa hanya empat nama itu yang ingin ia sampaikan pada Kayl.

"Yeah hanya itu. Untuk yang lainnya kurasa we will meet them along the way. Jadi sekali tembak dapat beberapa."

Kayl wondering. Dari empat nama itu ada satu hal yang membuatnya cukup heran.

"Hmm.. Djackson. Maksudmu Djackson the Djakson? Dari keluarga bangsawan Djakson?"

"I mean who else?"

"Kau yakin dia mau ikut denganmu? Maksudku bukankah mereka membenci Gavalae? For one or another, biasanya satu isu dari Pewaris cukup untuk membuat yang lain tercemar."

"Well, kak Gav memiliki kasus yang berbeda denganmu."

Malkay mulai duduk lebih santai.

"You killed Sovereign & Marshall for your personal mission, kak Gav membunuh Triplet Marshall of the Golden River karena urusan bisnis. It was more like an inevitable occurrence. Jadi aku cukup yakin Djackson tidak anti dengan kita."

Sekitar setahun yang lalu terdapat sebuah isu yang cukup panas. Gavalae dari faksi Kzandra mengambil alih sebuah tanah dekat Golden River. Triplet Marshall yang kebetulan memiliki warisan di sana merasa bahwa wilayah itu milik mereka. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk bertarung.

Guess what? Beberapa planet meledak.

"Is that so?"

Kayl pondering.

"Hehah! Well, apa kau berencana menggunakan Djackson untuk mengahadapi Azakay? Mind you, the only one who can stand against me adalah Azakay."

Maksud Kayl adalah Azakay itu setara dengan dirinya. Yang berarti bahkan Djackson yang terkenal kuat dan berpengaruh pun tidak akan membuahkan hasil apapun. Kayl sudah pas untuk melawan Azakay.

"That is a weird wording. Dan no. Sudah kubilang Azakay akan melawanmu di akhir cerita."

Malkay ragu.

"Tapi aku sedang mencari cara agar itu tidak terjadi secara langsung."

"You still don't wanna make Mama cry, huh?"

Kayl menggoda. Membuat Mama mereka menangis adalah hal yang sangat dilarang. Setiap Pewaris menggenggam erat janji ini.

"I mean kita Kzandra sudah berjanji, right?"

"Heheh alright alright.." Kayl menyondongkan diri ke meja, "Man! Aku ingin sekali mencicipi rasanya memukul The One. Entitas itu membuat mama menangis, right?"

Mendengar itu, Malkay menyondongkan diri juga.

"Count me in!"

"Hehahah!"

Mereka berdua tertawa.

Makin malam, orang-orang makin berdatangan.

Kebanyakan dari mereka adalah pekerja kantoran. Tampak dari pakaian jas dan mantel rapi yang mereka kenakan.

However one thing that stand out adalah ada beberapa orang dengan wajah cukup familiar. Setidaknya di mata Malkay.

Pakaian mereka casual. Memakai celana jean ketat dan jaket kulit hitam dengan dekorasi bulu tebal di kerah.

Ada juga seorang perempuan dengan style jaket terbuka dengan panjang hanya sampai di bawah boobs dan lengan digulung sampai mendekati siku. Exactly persis seperti gaya Kayl.

"But hey! Kau belum menjawab pertanyaanku tadi."

Kayl serius.

"Kenapa.. Elios yang pertama?"

Malkay menyender kembali. Relaxed. Ia harus menyusun kalimat untuk membuat Kayl yakin tanpa harus revealing semua hal pada semua orang termasuk kalian.

"Jujur saja aku masih belum benar-benar mengerti."

Malkay meminum susu matchanya lagi yang kini sudah hampir habis.

"Godscrown adalah permainan untuk menjadi Dewa. Tapi hadiah seperti itu tidak serta merta bisa terwujud... No. Lebih tepatnya, siapa yang akan mewujudkannya?"

Kayl masih mendengarkan. Although block masking masih menyelimuti mereka berdua, beberapa mata tampaknya mulai melirik.

Tetap tidak bisa mendengar mereka berdua tho.

"Jadi aku berpikir.. it seems like ada puzzle yang harus diisi. Dan kebetulan Helios Kingdom adalah salah satu wilayah tertua di planet ini. Jadi muncul kesimpulan.."

Malkay kembali menyondongkan dirinya ke meja. Kali ini mata digitalnya yang tampak seperti dua bola cahaya di layar itu mulai meruncing. Malkay serius.

"Aku.. berencana menggunakan Elios sebagai alat. Alat untuk mengaktifkan whatever it is yang ada di dalam Helios Kingdom."